26 April 2010

Temper Tantrum



Bagi anda yang pernah atau sedang memiliki anak usia 3-5 tahun, mungkin tau bahkan mungkin pernah anaknya mengalami temper tantrum. 

Tempert tantrum ini merupakan luapan emosi anak yang tidak mampu di kelolanya. Sehingga berakhir dengan tangis, teriak, berguling-guling di lantai, melempar barang-barang dan lain-lain. Usia anak yang mengalaminya bervariasi, ada yang sejak usia setahun, ada yang menjelang 3 tahun.
Anak kami Abila juga mengalami temper tantrum ini, sungguh luar biasa kesabaran yang harus kita miliki untuk anak yang memilki temper tantrum ini. Abila tidak mengalami temper tantrum sejak bayi, dia bahkan terkesan sangat dewasa ketika bermain dengan seusianya. Ketika dia tertarik dengan mainan temannya dia tidak akan merampasnya tapi akan meminta ijin terlebih dahulu pada si empunya "boleh tidak saya pinjam? atau boleh tidak saya pakai?" kata-kata ini paling sering dia ucapkan, ini saat umur abila 2-3 tahun. Saya masih ingat seorang tante yang saat itu melihat anaknya bermain dengan Abila dan anaknya tidak pernah nangis, tante itu bilang "wah..Abila bisa bermain dengan baik dengan anak saya, karena Abila tidak merampas mainannya".

Ketika kami mengajaknya ke toko mainan, dan dia ingin mengambil banyak mainan kami hanya memberinya dua atau tiga pilihan dan dia hanya boleh memilih satu diantaranya. Awalnya dia pasti protes tapi kami berusaha mengajaknya berbicara layaknya orang dewasa, berdiskusi dan memberikan kepadanya alasan-alasan sehingga akhirnya dia akan memilih 1 yang paling di sukainya.

Ketika dia menangis karena kecewa, tangisnya tidak pernah lama dan segera tersenyum bahkan tertawa ketika kami melucu, sampai-sampai ada sodara yang bilang "kamu ini orang aneh, nangis kog tiba-tiba tertawa".

Tapi semua itu sekarang jadi berubah, sangat berubah. Sejak bayi saya berusaha menerapkan pada Abila teori-teori yang aku baca di berbagai artikel. Mengajarnya untuk tidak merampas, tidak memukul, meminta ijin pada si empunya barang kalau ingin memakai barang orang lain, mengajaknya berbicara secara dewasa tapi dengan kalimat yang mudah dia mengerti, mengatakan salah ketika dia salah, dan lain-lain. Awalnya semua terlihat baik-baik saja tapi sekarang semuanya berubah.

Tantrum pertama kalinya dia perlihatkan ketika menjelang keberangkatan papanya ke US, saat itu kami sedang ke Mall Trade Center Makassar untuk beli kamera. Nah saat lagi memilih kamera, Abila meminta ijin untuk memegang kamera tapi tentunya kami tidak mengijinkannya (ntar jatuh, kan bisa beli barang rusak tuhh..hik..hik). Berkali-kali dia mengulang permintaannya tapi kami tidak begitu memperhatikannya karena asyik diskusi sama penjual kamera. Mungkin karena merasa di cuekin dia merampas kamera dari tangan papanya, untung gak jatuh dan saya pun karena kaget langsung memarahinya. Abila langsung menangis pelan-pelan-dan akhirnya teriak. Saya yang saat itu baru ngeliat abila nangis histeris mencoba membujuknya memberikan kamera yang sudah kami bayar, dia tidak mau dan malah tambah histeris. Kamipun segera pergi dari toko itu tapi Abila tetap menangis keras. Karena saya merasa malu di tonton orang banyak, saya bawa Abila ke tempat yang lebih sunyi tapi dia semakin meraung-raung. Karena ikutan emosi sayapun memukulnya, dia malah tambah teriak. .....hufffffffff..

~ bersambung~
Image from://www.iriscphotography.com/

8 comments:

  1. sy juga punya baby..meski karakternya tidak separah itu, tapi menurut saya gak usah terlalu dibesar-besarkan. Itu hanya proses bayi menjadi anak kecil saja..

    salam,
    Bolehngeblog

    ReplyDelete
  2. @ Dangsleman: Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Memang tidak semua balita seperti itu. Temper tantrum pun beda tingkat keparahannya antara anak yang satu dengan yang lainnya. Bahkan beberapa balita tidak mengalaminya.

    Sangat tidak bermaksud untuk membesar-besarkan.., oiya mungkin bisa lihat video ini http://www.youtube.com/watch?v=3VAjYa9j0KY, ini salah satu contohnya.

    ReplyDelete
  3. saya sudah melihat videonya..
    berhubung anak sy masih baby, sy ngelihat perkembangan keponakan saya..dulu pernah kalo minta sesuatu dia nangis di tengah jalan..ternyata perilaku dia terjadi karena:
    1. tidak terpenuhinya keinginan (bukan kebutuhan)
    2. terpenuhinya keinginannya dengan cara misal: nangis dijalan, di toko, dsb.
    tapi beranjak usia 4 atau 5 tahun ke atas, keponakan saya BERHENTI dari perilaku demikian. Mungkin, dia malu kalo berbuat itu atau karena dia sudah sadar kalo itu hanya keinginan sesaat.
    kesimpulan saya tetap kalo itu hanya siklus dari anak kecil ke anak yang lebih besar lagi.
    don't worry too much..

    salam,
    Bolehngeblog

    ReplyDelete
  4. @Dangsuleman: Benar banget..ini tahap anak dalam mengendalikan emosi mereka. Dari beberapa artikel yg saya baca memang semua akan hilang dengan sendirinya ketika usianya menginjak 5 tahun.

    Thanks sudah berbagi info...:))

    ReplyDelete
  5. Mbak Ita...makasih sharingnya, bagus nih infonya utk yg lain yg mungkin mengalami pengalaman sama tapi belom tentu menuliskan pengalamannya. Ditunggu sambungannya ya ;-)

    ReplyDelete
  6. Thanks mba Helen..udah mampir kesini..:))

    ReplyDelete
  7. Anak adalah buah hati. Beragam suka dan duka dalam mendidik dan mengasuhnya. Temper Tantrum adalah salah satu yang kadang terjadi pada seorang anak yang membuat orang tua 'kelabakan' dibuatnya. Kisah yang sangat menarik. Trims sharingnya.

    ReplyDelete
  8. @Herdoni: Terima kasih juga sudah mampir baca-baca disini. Temper tantrum merupakan ujian dalam memanagement emosi buat anak dan orang tua..he..he

    ReplyDelete

Berkomentar yang sopan sangat disenangi, komentar spam akan di hapus. Thanks!!