21 September 2011

Keseleo Siku

Sore itu, saya, Abila dan papanya menuju Kuhio elementary school untuk melihat ruangan yang bakal Abila tempati selama bersekolah di kindergarden. Siswa kindergarten di Kuhio elementary school di bagi 4 ruangan, masing-masing ruangan ada 20 siswa dan 2 guru.


Setelah melihat pengumuman, Abila merengek main di playground sekolah. Yah, karena dirumah juga tidak ada kegiatan kami pun menuruti kemauannya. Saat tengah bermain, dia datang lagi merengek minta di tolong untuk di gendong saat main di monkey bar karena dia 
belum mampu menahan berat tubuhnya saat memindahkan tangan dari besi satu ke besi lainnya. Tapi karena saat itu ramadhan dan jam 5 sore, benar-benar waktu energi sudah hampir habis kami pun menolaknya "main sendiri saja yah nak!" kata kami saat itu.


Abila pun berlari lagi ke playground, dari jauh kami melihat dia meminta tolong pada seorang teman mainnya. Dia meminta temannya untuk memegang kakinya, saat dia di monkey bar. Di luar dugaan, pegangan tangannya terlepas sementara kakinya masih dipegang oleh temannya, alhasil siku kirinya yang langsung mengena tanah. Abila menangis, saya dan suami berlari ke arahnya, siku kirinya keseleo. Masih untung, lantai playgorund disini terbuat dari semacam karet, jadi tidak ada luka. Meski begitu, kami sangat menyesal kenapa harus menolak saat dia minta tolong :(

Abila menangis memegangi sikunya, saya pun melepaskan jilbab yang saya kenakan untuk diikatkan pada siku Abila. Untungnya saya pakai ciput yang menutupi kepala dan baju yang saya kenakan menutupi semua leher. Sampai rumah Abila tertidur, kelihatan di wajahnya dia begitu lemas. Tidurnya pun tak nyenyak, sesekali terbangun meringis kesakitan. Badannya agak demam.

Semalaman dia tak tidur, ke esokannya saya mengompres sikunya dengan air es sesuai petunjuk disini. Badannya juga sudah tidak demam lagi.


Dua hari berselang, dia sudah bisa tidur nyenyak tapi saya dan papanya mulai khawatir melihat sikunya yang seperti ada dislokasi tulang, kalau di kampung saya namanya 'pengkong/sengkong'. Saya dan suami mencoba browsing, dokter atau rumah sakit mana yang bisa menangani tulang. Ketemu dengan web Shriners  Hospital, rumah sakit khusus anak-anak yang bermasalah dengan tulang dan kulit.

Suami mencoba menghubungi pihak rumah sakit, dan di sambungkan ke salah seorang dokter. Lewat telepon sang dokter bertanya, apakah anak masih menangis kesakitan? apakah anak demam? apakah anak, masih mampu menahan sakit? Dari hasil interview via telepon, dokter menyarankan kami datang ke esokan harinya karena saat itu sudah jam 3 sore. Katanya karena anaknya tidak lagi kesakitan, besok saja datang untuk di cek tulangnya.

Keesokan harinya, kami ke Shriners hispital. Mengantri di ruangan yang cukup besar, dengan banyak buku anak-anak dan mainan melengket pada meja yang terbuat dari kayu. Saat tiba giliran Abila, dokter dan seorang nurse memeriksa siku Abila secara manual, kemudian kami di suruh ke ruang x-ray. Selang 5 menit, hasil x-ray nya jadi, dan alhamdulilah tak ada dislokasi tulang seperti yang kami khawatirkan. Hanya saja, kata dokter ada lebam di dalam jadi mereka tidak mampu mendeteksi apakah ada ligamen yang robek. Tapi mereka akan memasang arm cast selama 3 minggu. Selama memakai arm cast, Abila memang tak lagi merasakan sakit, tapi sering merasa gatal dan kepanasan. 



Perawatan selama menggunakan arm cast ini juga lumayan memberi pelajaran untuk hati-hati. Arm castnya tidak boleh basah, jadi setiap mandi Abila mesti mengangkat satu tangan. Kalau harus keramas saat rambutnya mulai lepek, harus ku cuci rambutnya di wastafel. 

Setelah 3 minggu berselang, saatnya arm castnya di lepas kemudian di x-ray lagi untuk memastikan ligamen di sikunya baik-baik saja. Alhamdulilah setelah x-ray, tak ada ligamen yang robek atau regang. Sekarang saatnya menunggu tagihan dari rumah sakit dengan dada kembang kempis, semoga tak mengempiskan kantong :P.

0 comments:

Post a Comment

Berkomentar yang sopan sangat disenangi, komentar spam akan di hapus. Thanks!!